Translate

Kamis, 20 Maret 2014

FLATSHOES 100.000 DAPAT 3 SEPATU




















FLATSHOES 100.000 DAPAT 3 SEPATU
boleh campur model dan ukuran
grab it fast dear
for order
SMS : 081952561440
LINE : juwita_lorian
BBM : 79773896

FLATSHOES 100.000 DAPAT 3 SEPATU


























FLATSHOES 100.000 DAPAT 3 SEPATU
boleh campur model dan ukuran
grab it fast dear
for order
SMS : 081952561440
LINE : juwita_lorian
BBM : 79773896

Lovely Sweater_IDR 80000_fit up to XL_rajut halus






Lovely Sweater_IDR 80000_fit up to XL_rajut halus

PANTS LUCU MURAH






Dotty Pants Price 95000
Size fit up to L, LP 94cm length 95cm, pinggang serut, saku kiri kanan, bagian bawah bisa di lipat ( ada renda) jika tidak dilipat (tidak ada renda), lingkar paha 60cm Material cotton stretch Colour purple
grab it fast dear
for order
SMS : 081952561440
LINE : juwita_lorian
BBM : 79773896

BAJU CEWEK MURAH






Stripy Shirt Price 85000
 Size fit up to L, LD 98cm kancing depan bisa dibuka, length 65cm, lingkar lengan 40cm Material cotton denim Colour deepblue , lightblue 
grab it fast dear
for order
SMS : 081952561440
LINE : juwita_lorian
BBM : 79773896

Sabtu, 15 Maret 2014

fonemik



PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang

Fonemik adalah bidang linguistik yang mempelajari bunyi bahasa tanpa dengan memperhatikan apakah bunyi tesebut mempunyai fungsi sebagai pembeda makna atau tidak. Sebagai mana diketahui bahwa fonemik sacara fungsional dipertentangkan dengan fonetik, karena fonemik mengkhususkan perhatianya pada makna yang ditimbulkan oleh sebuah bunyi bahasa ketika dituturkan sedangkan fonetik hanya memfokuskan bagaimana bunyi bahasa dapat dituturkan secara benar baik dari segi cara maupun dari segi tempat artikulasinya.
Dalam bidang fonemik kita akan mempelajari tentang perbedaan makna yang ditimbulkan oleh perbedaan cara penuturan dalam suatu bunyi bahasa. Hal ini sangat penting karena dalam pembelajaran bahasa khususnya bahasa Indonesia kita akan dihadapkan pada berbagai masalah bunyi-bunyi bahasa yang secara sepintas sama akan tetapi sangat berbeda dari segi makna yang ditimbulkannya.

B.     Perumusan Masalah dan Tujuan

Karena makalah tentang fonemik ini dibatasi hanya pada pembahasan definisi fonem, maka kita perlu memahami arti dari fonemik dan fonem itu sendiri.



BAB II
PEMBAHASAN


A.    Definisi Fonem
Fonem sebuah istilah linguistik dan merupakan satuan terkecil dalam sebuah bahasa yang masih bisa menunjukkan perbedaan makna. Menurut Kenneth L. Pike (1963:63) fonem adalah salah satu dari unit bunyi yang penting atau suatu yang menunjukan kontras makna dari unit bunyi. Sedangkan L. Bloomfield (1961:79) mengatakan bahwa suatu unit terkecil bunyi yang membedakan disebut fonem.
Untuk mengetahui kesatuan bunyi yang berfungsi sebagai pembeda makna adalah dengan melakukan pembuktian secara empiris[1] dengan membandingkan bentuk-bentuk linguistik bahasa yang diteliti. Misalkan dalam bahasa Indonesia bunyi [k] dan [g] merupakan dua fonem yang berbeda, misalkan dalam kata "cagar" dan "cakar". Tetapi dalam bahasa Arab hal ini tidaklah begitu. Dalam bahasa Arab hanya ada fonem /k/.
Di dalam bahasa Indonesia bentuk linguistik [palaƞ] ‘palang’ dapat dipisah menjadi lima bentuk linguistik yang lebih kecil yang masing-masing tidak mempunyai makna, yaitu [p], [a], [l], [a] dan [ƞ]. Jika salah satu bentuk linguistik terkecil tersebut ( misalnya [p] diganti dengan [d], [j], [m] ), maka makna bentuk linguistik yang lebih besar, yaitu [palaƞ] akan berubah.
[dalaƞ]   ‘dalang’
[jalaƞ]    ‘liar’
[malaƞ]  ‘celaka’
Berdasarkan bukti empiris tersebut ddiketahui bahwa bentuk linguistik terkecil [p] berfungsi membedakan makna terhadap bentuk linguistik yang lebih besar, yaitu [palaƞ], walaupun [p] sendiri tidak mempunyai makna. Bentuk linguistik terkecil yang berfungsi membedakan makna itulah yang disebut fonem. Jadi, bunyi [p] merupakan realisasi dari fobnem /p.
Pengertian fonem juga bisa diarahkan pada distribusinya, yaitu perilaku bentuk linguistik terkecil dalam bentuk linguistik yang lebih besar. Perhatikan data bentuk-bentuk linguistik berikut.
[pita]     ‘pita’                          [atap]     ‘atap’
[sapu]    ‘sapu’                         [sap’tu]              ‘sabtu’
Dari deretan data di atas diketahui bunyi stop bilabial[2] tidak bersuara (tercetak tebal) diucapkan secara berbeda. Pada deretan kiri diucapkan secara plosif[3]. Sedangkan deretan kanan diucapkan implosif[4]. Kedua jenis bunyi ini mempunyai kesamaan fonetis. Setelah diamati, ternyata bunyi stop bilabial tidak bersuara diucapkan secara plosif apabila menduduki posisi onset silaba (mendahului nuklus), sedangkan bunyi stop bilabial tidak bersuara diucapkan secara implosif apabila menduduki posisi koda[5] silaba (mengikuti nuklus). Berarti kedua bunyi tersebut berdistribusi komplementer[6], yaitu bunyi yang satu tidak pernah menduduki posisi bunyi lain. Bunyi-bunyi yang mempunyai kesamaan fonetis dan masing-masingnya berdistribusi komplementer merupakan alofon[7] dari fonem yang sama, yaitu /p/.

Sebagai bentuk linguistik terkecil yang membedakan makna, wujud fonem tidak hanya berupa bunyi-bunyi segmental[8] (baik vokal maupun konsonan), bisa juga berupa unsur-unsur suprasegmental[9] (baik nada, tekanan, durasi, maupun jeda). Walaupun kehadiran unsur suprasegmental ini tidak bisa dipisahkan dengan bunyi-bunyi segmental, selama ia bisa dibuktikan sacara empiris sebagai unsur yang bisa membedakan makna, ia disebut fonem.

B.DASAR-DASAR ANALISIS FONEM
Dasar-dasar analisis fonem adalah pokok pikiran yang dipakai sebagai pegangan untuk
menganalisis fonem-fonem suatu bahasa.
Pokok-pokok pikian atau premis-premis yang dimaksud adalah sebagai berikut :
B.1.Bunyi-bunyi suatu bahasa cenderung dipengaruhi oleh lingkungannya
       [nt] pada [tinta]          dan  [ṇḍ] pada [tuṇḍa]
       [mp] pada [mampu]   dan  [mb] pada [kǝmbar]
       Deretan bunyi tersebut saling mempengaruhi dan saling menyesuaikan demi kemudahan pengucapan.
Daerah artikulasi adalah daerah pertemuan antara dua artikulator.
      Bilabial - bibir atas dan bibir bawah (kedua bibir terkatup), mis.: [p], [b], [m]
      Labiodental - bibir bawah dan ujung gigi atas, mis.: [f]
      Alveolar - ujung/daun lidah menyentuh/mendekati gusi, mis.: [t], [d], [s]
      Dental - ujung/daun lidah menyentuh/mendekati gigi depan atas
      Palatal - depan lidah menyentuh langit-langit keras, mis.: [c], [j], [y]
      Velar - belakang lidah menempel/mendekati langit-langit lunak, mis.: [k], [g]
      Glotal (hamzah) - pita suara didekatkan cukup rapat sehingga arus udara dari paru-paru tertahan, mis.: bunyi yang memisahkan bunyi [a] pertama dan [a] kedua pada kata saat
B.2. Sistem bunyi suatu bahasa berkecenderungan bersifat simetris
Kesimetrisan sistem bunyi ini bisa dilihat pada bunyi-bunyi bahasa Indonesia sebagai berikut :
      Selain ada bunyi hambat bilabial [p] dan [b], juga ada nassal bilabial [m]
      Selain ada bunyi hambat dental [t] dan [d],juga ada nasal dental [n]
      Selain ada bunyi hambat palatal [c] dan [j], juga ada bunyi nasal palatal [ñ] dan [ƞ]
      Selain bunyi hambat velar [k] dan [g], juga ada bunyi nasal velar [ñ] dan [ƞ]




B.3. Bunyi-bunyi suatu bahasa cenderung berfluktuasi.
Gejala fluktuasi bunyi ini sering dilakukan oleh penutur bahasa tetapi dalam batas-batas
wajar yaitu, tidak sampai membedakan makna
Contoh : untuk makna yang sama selain
      [papaya] juga diucapkan [pǝpaya]
      [sǝmakin] juga diucapkan [sǝmaηkin]
      [sǝkadar] juga diucapkan [sǝkǝdar]
      [adik] juga diucapkan [adek]

B.4. Bunyi-bunyi yang mempunyai kesamaan fonetis digolongkan tidak berkontras  apabila berdistribusi komplementer dan bervariasi bebas
      Tidak berkontras adalah tidak membedakan makna, karena tidak membedakan makna bunyi-bunyi itu termasuk dalam fonem yang sama
      Berdistribusi komplementer adalah bunyi yang satu tidak pernah menduduki posisi bunyi yang lain begitu juga sebaliknya
      Bervariasi bebas adalah bunyi-bunyi yang mempunyai kesamaan fonetis itu bisa saling menduduki posisi yang lain, tetapi tidak sampai membedakan makna

Contoh berdistribusi komplementer;
      Bunyi [k] dan [?], bunyi [k] menduduki posisi silaba (pengawal suku), sedangkan bunyi [?] menduduki posisi koda silaba (pengakhir suku), misal dalam kata [poko?] dan [ma?lum]
Contoh bervariasi bebas
      Bunyi [k] dan [x], misal [akir] dan [axir]
      [kilaf] dan [xilaf]
      Secara kebetulan berasal dari unsur serapan bahasa arab




B.5. Bunyi-bunyi yang mempunyai kesamaan fonetis digolongkan kedalam fonem yang berbeda apabila berkontras dalam lingkungan yang sama atau mirip
      Untuk mengetahui kontras atau tidaknya bunyi-bunyi suatu bahasa dilakukan dengan cara pasangan minimal.
      Contoh pasangan minimal dalam lingkungan yang sama [tari]-[dari], [paku]-[baku]
      Contoh pasangan minimal dalam lingkungan yang mirip [ciri]-[jari], [kilap]-[gǝlap]

 C.PROSEDUR ANALISIS FONEM
    Prosedur yang dilakukan para linguis dalam analisis fonem:
1.Mencatat korpus data setepat mungkin dalam transkripsi fonetis
   Korpus data ini bisa dari ucapan kata-kata terpisah dari penutur asli bahasa yang diteliti,percakapan sehari-hari,cerita –cerita pribadi.
Contoh:1)[#pa+pan#]      papan
            2)[#ra+tap#] ratap
            3)[#pi+kir#] fikir
           4)[#pa+pa+ya#] pepaya

2.Mencatat bunyi yang ada dalam korpus data ke dalam peta bunyi.

Depan
Tengah
Belakang
Tinggi
i

U
Agak Tinggi
i
Ә

Agak Rendah
ԑ

O
Rendah

A


3.Memasangkan bunyi-bunyi yang dicurigai karena mempunyai kesamaan fonetis.
    Bunyi-bunyi dikatakan mempunyai kesamaan fonetis apabila bunyi-bunyi tersebut terdapat pada lajur sama,kolam sama atau pada lajur dan kolam yang sama.
Contoh:1)[p]-[p’]
             2)[p]-[b]
             3)[t]-[t’]

4.Mencatat bunyi-bunyi selebihnya karena tidak mempunyai kesamaaan fonetis.
    Bunyi-bunyi yang tidak mempunyai kesamaan fonetis adalah bunyi[s],[c]dan [h].






5. Mencatat bunyi-bunyi yang berdistribusi komplementer.
    Berdasarkan korpus di atas,pasangan bunyi yang berdistribusi komplementer adalah[p]dan[p’]
[p]                                                                         [p’]
1.[#pa+pan#]      ‘papan’                                 2.[#ra+tap’#]   ‘ratap’
3.[#pi+kir]          ‘fikir’                                    4.[#kә+lap+kә+lip’#] ‘kelap-kelip
5.[#pa+pa+ya#]  ‘pepaya’                                6.[#kԑ+cap’#]’kecap’

6.Mencatat bunyi-bunyi yang bervariasi bebas.
[p]                                                                                                  [p]
Golongan 1                                          Golongan 2                     Golongan 2
1)[#pa+pan#]    ‘papan’                        3)[#pi+kir#]                     2)[#fi+kir#]

7.Mencatat bunyi-bunyi yang berkontras dalam lingkungan yang sama(identis).
Contoh:[#kԑcap’#] ‘kecap’
             [#ki+cap’#] ‘kicap’

8.Mencatat bunyi-bunyi yang berkontras dalam lingkungan yang mirip(analogis).
Contoh:[#pa+sar#]
             [#bә+sar#]

9.Mencatat bunyi-bunyi yang berubah karena lingkungan.
Contoh:[k]:Plosif,velar mati                              [k]Plosif ,palatal mati
              [#kә+lap’+kә+lip’#]                               [#pi+kir#]’fikir’
              [#ku+ku#]’kuku’                                    [#fi+kir#] ‘fkir

10.Mencatat bunyi-bunyi dalam inventori fonetis dan fonemis,condong menyebar secara simetris.
Contoh:[#ra+tap#]’ratap’
             [#kO+ta#]’kota’

11.Mencatat bunyi-bunyi yang berfluktuasi.
Contoh:[#pa+pa+ya#]
             [#pә+pa+ya#]

12.Mencatat bunyi-bunyi selebihnya sebagai fonem tersendiri.
Contoh:[s],[c],[h].Bunyi-bunyi tersebut dianggap sebagai fonem tersendiri,yaitu/s/,/c/,/h/.

A.    Kesimpulan
Sebagai mana talah kita ketahui bahwa fonemik sacara fungsional dipertentangkan dengan fonetik, karena fonemik mengkhususkan perhatianya pada makna yang ditimbulkan oleh sebuah bunyi bahasa ketika dituturkan sedangkan fonetik hanya memfokuskan bagaimana bunyi bahasa dapat dituturkan secara benar baik dari segi cara maupun dari segi tempat artikulasinya.


DAFTAR PUSTAKA



Muslich, Mansur. 2010. Fonologi Bahasa Indonesia. Jakarta: Bumi Aksara
http://www.artikata.com/arti-327306-fonem.html
http://id.answers.yahoo.com/question/index?qid=20090906031433AAFmeM3